Masalah seputar kepemimpinan selalu manjadi pembicaraan hangat dalam keseharian kita. Sebuah contoh sempurna bagi kepemimpinan yang dipatuhi tidak hanya di jamannya tetapi sampai hari kiamat, bahkan masih membela umatnya di hari pengadilan nanti, itulah kepemimpinan pribadi Rasulullah Muhammad SAW.
Kita bisa meneropong kebesaran beliau hanya dari kejadian-kejadian keseharian beliau beserta para sahabatnya yang mulia. Kisah-kisan sederhana yang kemudian menjadi amat mengharukan.
Rasulullah adalah teladan sempurna kita. Figur seorang pemimpin yang sangat dekat dengan siapa saja dalam kesehariannya. Walaupun beliau ada juga pemimpin mereka, Rasul sangat menghormati para sahabatnya dan tidak pernah mempermalukan atau mengina mereka sedikit pun. Kebesaran jiwa kepemimpinan beliau dapat kita telaah pada kisah-kisah biasa yang menjadi sangast luar biasa, seperti ketika suatu hari Abdullah al-Banjaliy tidak mendapat tempat duduk ketika menghadiri majelis. Ketika Rasulullah mengetahui hal tersebut, beliau langsung mencopot gamisnya dan mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk. Namun Abdullah al-Banjaliy tidak mendudukinya, malah mencium baju Rasulullah dengan air mata yang berlinang. “Wahai Rasulullah, semoga Allah memuliakanmu, sebagaimana Anda telah memuliakanku, “komentar Abdullah.
Pemimpin mana di dunia ini yang memberlakukan timbangan keadilan dan hukum bagi dirinya sendiri? Lain halnya dengan Rasulullah. Walaupun beliau adalah seorang penguasa tunggal yang sangat disegani sekaligus dipatuhi telah menorehkan sebuah memori indah bagi penguasa-penguasa yang hidup di jaman ini.
Suatu ketika menjelang akhir hayatnya, Nabi SAW berkata kepada para sahabat, “Mungkin Allah akan memanggilku sebentar lagi. Akuk tak ingin di padang mahsyar nanti, ada di antara kalian yang menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, katakanlah!”
Para sahabat terdiam. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat akan pergi berperang, engkau meluruskan posisiku dengan tongkatmu. Aku tidak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tetapi aku ingin menuntut qishash hari ini.”
Sahabat-sahabat yang lain terpana dan merasa heran ada yang berani berucap demikian. Umar RA langsung berang dan berdiri untuk mencegah sahabat yang menuntut qishash tersebut. Namun Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal RA mengambil tongkat ke rumah Nabi SAW. Aisyah RA yang berada di rumah Nabi merasa heran ketika Bilal datang untuk mengambil tongkat atas perintah Nabi. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran. Mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekat itu setelah semua yang Rasul berikan kepada mereka?
Rasul memberikan tongkat tersebut kepada sahabatnya itu seraya menyingkapkan bajunya sehingga telihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “Lakukanlah!”
Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, ” Susungguhnya tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah bersabda, “Barang siapa ingin melihat calon penghuni surga, maka lihatlah kepada orang ini.”
Lihat pula betapa besarnya kesabaran dan kasih sayang beliau kepada umat yang dipimpinnya. Dalam keadaan lelah dan bersimbah darah karena ajakan dakwah yang berbalas hujan batu dan kejaran, ternyata hal tersebut tidak menjadikan beliau putus asa, pendek akal dan kemudian mendendam. Malah beliau larut dalam doa yang begitu amat mesranya kepada Allah SWT. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW sehingga Jibril AS datang dan memberikan salam kepada beliau, dan berkata, “Allah mengetahui apa yang terjadi dalam pembicaraanmu dengan kaummu, dan Allah mendengar jawaban mereka terhadapmu, dan Dia telah mengutus satu malaikat yang bertugas mengurusi gunung-gunung kepadamu untuk melaksanakan apa saja perintah yang diinginkan olehmu.”
Setelah malaikat itu datang dan memberi salah kepada Rasulullah SAW, ia berkata, “Apa yang engkau perintahkan akan saya lakukan. Jika engkau suka, saya sanggup membenturkan kedua gunung di samping kota ini bertubrukan sehingga mengakibatkan siapa saja yang tinggal di antara keduanya mati tertindih. Kalau tidak, apa saja hukuman yang engkau inginkan saya siap melaksanakannya.”
Sekali lagi tidak ada dendam. Yang ada malah doa tulus agar Allah mengampuni mereka dan permohonan hidayah kepada mereka karena bagi beliau semua itu mereka lakukan karena ketidaktahuan mereka. Rasulullah SAW yang mempunyai sifat pengasih dan mulia itu menjawab, “Saya hanya berharap kepada Allah SWT. Jika mereka tidak menjadi muslim, semoga pada suatu hari nanti anak cucu mereka akan menjadi orang-orang yang menyembah Allah.”
Sebagai pelaksana dari konsep beriman kepada Allah lalu diiringi dengan istiqamah (keteguhan dalam iman), sang Rasul memperlihatkan keperkasaan karakter yang mampu mengatasi sakit karena dihujani batu. Ia bertahan menanggung hinaan dan ejekan, dan berani menghadapi kesulitan hidup karena pemboikotan. Bahkan ketika darah mengucur dari kepalanya yang terluka, pendiriannya tak pernah goyah, dan tekadnya tetap membaja. Ia tidak mengadu kepada Allah, namun hanya berdoa, “Ya Allah, beri petunjuk kaumku karena mereka itu tidak mengetahui (perkara yang aku bawa).”
Kepemimpinan beliau adalah perpaduan antara kasih sayang dan ketegasan. Berpihak kepada rakyat dan pengikut setianya dan tidak pernah bisa didikte oleh musuh-musuhnya. Model pemerintahan seperti inilah yang membuat pemerintahan beliau menjadi sangat berwibawa, membawa pengaruh baik dalah daerah kekuasaan sekaligus menjadikan pemerintahan beliau sangat disegani oleh musuh-musuh dan lawan-lawan politik beliau. Kepemimpinan berbasis keteladanan, keadilan, dan kasih sayang. Hal ini tergambar jelas dalam Al-Qur’an:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al-Fath: 29).
Sebagai rakyat, tentulah kita punya kewajiban moral untuk ikut mendoakan para pemimpin di samping kewajiban untuk tetap patuh dan tunduk kepada ulil amri sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Ingatlah tiap kita adalah batu bata bangunan negeri ini, dan pemimpin lahir dari kalangan keluarga rakyat. Maka kalau kita menginginkan pemimpin yang baik, kita harus melahirkan dari rumah-rumah kita bibit-bibit yang pemimpin yang baik untuk masa depan bangsa dan negeri ini. Siapa tahu salah satunya adalah anak-anak kita. Maka mendidik anak dengan baik adalah salah satu bentuk tanggung jawab kita untuk masa depan negeri yang lebih cerah. Allah mengajarkan sebuah doa yang indah:

Dan orang orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S Al-Furqan: 74).
Amin Ya Rabbal ‘alamiin.
(Diambil dari buletin dakwah “AL-IHSAN” terbitan PPKI (Pusat Kajian Ilmu-ilmu Islam), Edisi 140/Thn. III. Judul asli: “Pemimpin Paripurna”.)
***
