“Gurita Cikeas” karya George Junus Aditjondro. Silakan diunduh.
KEASLIAN ISI TIDAK DIJAMIN.
***
Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor sempat menonton acara “Apa Kabar Indonesia Pagi” di TV-One. Ada topik yang menarik yang membahas tentang sebuah buku. Buku tersebut berjudul, “Atlantis - The Lost Continent Finally Found” karya Profesor Arysio Nunes dos Santos, seorang berkebangsaan Brasil. Kenapa buku tersebut begitu menyita perhatian sampai harus dijadikan topik sebuah acara talk show sebuah stasiun televisi?
Masalah yang diangkat pada buku tersebut ternyata behubungan dengan seorang filsuf yang amat berpengaruh di Yunani, yang hidup pada masa 427 - 347 SM. Filsuf itu bernama Plato. Plato mengatakan bahwa mengatakan bahwa dahulu kala pernah ada sebuah benua yang menjadi pusat peradaban dunia baik itu pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan alam, dan lain-lain. Benua itu oleh yang kemudian dikenal dengan benua Atlantis, yang oleh karena peristiwa alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan lain-lain, tenggelam dan menyisakan misteri hingga kini. Karena merupakan pusat peradaban dunia, tentu saja benua Atlantis dihuni oleh manusia-manusia yang katanya berperadaban sudah sangat maju.
Plato mengatakan bahwa letak benua Atlantik adalah ada di daerah yang sekarang dikenal sebagai samudera Atlantik. Sedangkan dalam bukunya tersebut, Profesor Arysio Santos berpendapat berbeda. Setelah melakukan penelitian selama kurang lebih 30 tahun, akhirnya dia menyimpulkan bahwa daratan yang merupakan pusat peradaban dunia tersebut yang dikenal dengan Benua Atlantis itu ternyata lokasinya bukan berada di samudera Atlantik seperti yang disangka oleh Plato selama ini, tapi berada di wilayah yang lokasinya sama dengan INDONESIA. Ya, Profesor Santos yang juga seorang ahli nuklir menyatakan bahwa benua Atlantis itu adalah INDONESIA. Negara kita.
Urutan negara penyumbang emisi GRK (Gas Rumah Kaca) terbesar:
Target:
Bentuk bumi kita, bulat biru putih berkilau, gulungan awan diwarnai kemilau es di kutub yang menyilaukan yang berlawanan dengan warna biru laut. Itulah gambaran umum di kepala semua manusia tentang simbol rumah bersama kita.
Namun, berapa lama lagi generasi penerus kita bisa menikmati rupa bumi tersebut? Pekan lalu, para perunding perubahan iklim berkumpul di Kopenhagen, Denmark, untuk menanggapi usu pemanasan global. Mereka bicara soal 2020, 2030, atau 2050. Masa depan sistem iklim global bisa jadi ditentukan bukan oleh hitungan dekade tadi, melainkan oleh tindakan-tindakan kita; atau jika kita tidak bertindak apa-apa; dalam beberapa tahun mendatang, yang menentukan adalah laju melelehnya es.
Cryosphere (kriosfer); bagian bumi yang tertutup oleh salju dan es; telah lama dipandang sebagai canary in the coal mine (harapan ditengah bencana) bagi isu pemanasan global. Sudah sejak lama kita tahu, yaitu sejak munculnya laporan pertama kali dari Panel Ahli AntarPemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 1990, bahwa Arktik mengalami pemanasan lebih cepat, dua kali lebih cepat dibandingkan dengan bagian lain di dunia. Kita telah menyaksikan gletser di puncak gunung Kalimanjaro secara perlahan telah lenyap, 85% telah hilang pada abad lalu. Kita menyaksikan lapisan es Larsen B yang berusia 12000 tahun di Antartika runtuh dalam beberapa minggu saja pada tahun 2002.
Islam adalah agama yang rasional (masuk akal dan mudah untuk dinalar). Islam tidak bertentangan dengan akal pikiran, bahkan dalam maqashid asy-syari’ah, menjaga dan memelihara akal adalah salah satu tujuan tegaknya hukum syari’ah. Di samping itu, dalam Islam ada juga aspek-aspek yang tidak membutuhkan nalar namun keyakinan dan ketaatan secara mutlak. Allah SWT berfirman,
“dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat. (Q.S Al-Baqarah[2]: 128).“
Kita tidak diperintah untuk memperdebatkan mengapa shalat subuh itu dua rakaat sementara shalat dzuhur itu empat rakaat. Kita juga tidak diperintah untuk menyelidiki terbuat dari apakah Allah itu? Bagaimana Dia bersemayam di atas ‘arsy? Bagaimana rupa wajah-Nya dan bagaimana pula Dia melihat dan mendengar? Bahkan perbuatan mempertanyakan esendi Dzat dan perbuatan Allah adalah bid’ah.
Imam Malik rahimahullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ad-Damiri dalam Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah halaman 33 mengatakan,
“Istiwa (bersemayamnya Allah) adalah diketahui, tapi bagaimana caranya tidak diketahui, beriman dalam hal itu adalah wajib, dan mempersoalkannya adalah bid’ah.”
Kekisruhan kasus hukum di tanah air yang melibatkan para pejabat tinggi negara semakin menambah coreng-moreng wajah peradilan di negeri ini. Tayangan telavisi dan media surat kabar setiap hari menampilkan perseteruan antara dua lembaga penegak hukum yang seharusnya bias berjalan beriringan memberantas korupsi dan menegakkan supremasi hukum di begeri ini. Satu pihak menuduh, pihak lain menolah tuduhan. Masing-masing mengajukan bukti, baik yang menguatkan maupun yang membantah. Rakyat pun meradang. Mereka kecewa kala hukum ternyata telah menjadi alat kepentingan dan barang dagangan, lalu mereka pun turun ke jalan.
Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, kita sebaiknya menoleh sejenak ke masa tatkala Rasulullah SAW masih hidup. Beliau adalah teladan yang baik bagi kita dalam segala aspek kehidupan. Kita akan menjumpai sebuah pandangan hidup Islam yang menjunjung tinggi supremasi hukum serta asas kesetaraan di hadapan hukum. Tidak ada istilah “tebang pilih”. Tidak ada pula kita dijumpai “anak emas” dalam soal penegakan hukum ini.
Apabila kita membuka kitab kumpulan hadits-hadits shahih yang disusun oleh Imam Muslim, maka pada nomor urut 1688-8, kitab Al-Hudud bab tentang memotong tangan pencuri dari kalangan bangsawan dan selainnya dan larangan memberikan syafaat dalam pelaksanaan hudud, ada sebuah kisah yang luar biasa tinggi nilai hikmahnya. Dikisahkan bahwa telah terjadi pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita bangsawan dari Bani Makhzum. Sehingga dengan tindakannya itu ia terkena hudud, yaitu harus dipotong tangannya. Namun, beberapa orang dari kalangan Quraisy, melalui Usamah bin Zaid, meminta keringanan hukuman kepada Rasulullah SAW. Lalu apa jawaban Rasulullah SAW? Beliau serta merta marah seraya berkata, “Apakah engkau hendak memberikan syafaat dalam perkara hudud yang telah Allah berikan ketetapannya?”
Masalah seputar kepemimpinan selalu manjadi pembicaraan hangat dalam keseharian kita. Sebuah contoh sempurna bagi kepemimpinan yang dipatuhi tidak hanya di jamannya tetapi sampai hari kiamat, bahkan masih membela umatnya di hari pengadilan nanti, itulah kepemimpinan pribadi Rasulullah Muhammad SAW.
Kita bisa meneropong kebesaran beliau hanya dari kejadian-kejadian keseharian beliau beserta para sahabatnya yang mulia. Kisah-kisan sederhana yang kemudian menjadi amat mengharukan.
Rasulullah adalah teladan sempurna kita. Figur seorang pemimpin yang sangat dekat dengan siapa saja dalam kesehariannya. Walaupun beliau ada juga pemimpin mereka, Rasul sangat menghormati para sahabatnya dan tidak pernah mempermalukan atau mengina mereka sedikit pun. Kebesaran jiwa kepemimpinan beliau dapat kita telaah pada kisah-kisah biasa yang menjadi sangast luar biasa, seperti ketika suatu hari Abdullah al-Banjaliy tidak mendapat tempat duduk ketika menghadiri majelis. Ketika Rasulullah mengetahui hal tersebut, beliau langsung mencopot gamisnya dan mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk. Namun Abdullah al-Banjaliy tidak mendudukinya, malah mencium baju Rasulullah dengan air mata yang berlinang. “Wahai Rasulullah, semoga Allah memuliakanmu, sebagaimana Anda telah memuliakanku, “komentar Abdullah.
Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih.”
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu. Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata, “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?”
Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”
Mengikuti berita yang berseliweran akhir-akhir ini yang begitu hebat disorot oleh media massa sehingga menyita begitu banyak perhatian kita, jadi agak gatel juga kalau tidak ikut menanggapi. Diawali oleh kasus Bibit/Chandra, kemudian peristiwa pemutaran rekaman penyadapan KPK di MKRI, kemudia kasus Bank Century, dilanjutkan dengan kasus pencurian tiga buah kakao, setelah itu kasus penjualan 300 butir narkoba oleh oknum aparat penegak hukum, sampai yang paling mutakhir yaitu Prita yang kalah di pengadilan perdata dan harus membayar Rp 204 juta kepada RS Omni, semuanya menggelitik rasa keadilan kita. Itu mungkin hanya beberapa kasus yang kebetulan terangkat karena disorot media massa. Saya sangat percaya, dan saya yakin juga sebagian besar kita percaya dan yakin kalau kasus-kasus yang mencuat sekarang itu hanya sebagian kecil saja dari banyak kasus serupa yang telah terjadi di negeri kita ini.
Code berikut adalah rutin program untuk melakukan search seluruh file dan subdirektori yang ada di dalam suatu drive atau direktori tertentu dan ditulis dalam bahasa pemrograman Delphi (object pascal). Searching dilakukan dengan teknik rekursi (recursion).
Continue reading